Jumat, 12 Agustus 2011

PROPOSAL PENGEMBANGAN PEER COUNSELING KELAS IX

DI SMPN 1 KASEMBON TAHUN PEL. 2011 – 2012

OLEH : ARIEF MUSTAFA

KONSELOR SMPN 1 KASEMBON MALANG


 

  1. RASIONAL

Berdasarkan analisis kebutuhan (need assessment) Pelayanan Konseling di SMPN 1 Kasembon yang dilaksanakan diawal tahun pelajaran 2011-2012, maka dapat disimpulkan bahwa adanya kecenderungan siswa tidak mau atau enggan datang ke konselor untuk mendapatkan pelayanan konseling, jika menghadapi masalah. Beberapa faktor penyebab diantaranya ; di tahun pelajaran sebelumnya, BK lebih banyak terlibat dalam penegakan disiplin disekolah sehingga menimbulkan ketakutan akan sanksi-sanksi yang mungkin diterimanya. Kedua, ruang BK yang kurang menjamin privasi sehingga mereka malu jika dilihat teman-temannya. Ketiga, kurangnya informasi tentang pelayanan Konseling yang diterima siswa akibat dari tidak adanya jam masuk kelas dan kekurangan jumlah konselor. Keempat, rasio perbandingan konselor dengan siswa sebesar 1 : 630 jelas sangat tidak memungkinkan konselor mengadakan interaksi yang lebih intensif dengan siswa.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka beberapa masalah penghambat pelayanan konseling ditahun pelajaran 2011-2012 perlu diminimalisir dengan cara ;

  1. BK harus melepaskan diri dari penegakan disiplin di sekolah dengan tidak lagi terlibat langsung dalam penilaian perilaku siswa.
  2. membuat ruang BK yang reprentatif dimana terdapat ruang konseling yang nyaman dan terjamin kerahasiaannya.
  3. Pelayanan konseling diberikan secara klasikal pada jam pengembangan diri
  4. Mengangkat guru-guru mata pelajaran yang peduli terhadap pelayanan konseling untuk membantu BK agar tercapai rasio yang mendekati ideal yaitu 1 : 150 siswa
  5. Melibatkan siswa untuk ikut serta dalam pelayanan konseling melalui program peer counseling yang akan menjadi kepanjangan tangan konselor kesiswa. Peer counseling menjadi pintu pembuka untuk mendekatkan konselor dengan siswa dan mengubah persepsi negatif siswa terhadap konselor


     

  1. DEFINISI PEER COUNSELING


     

Judy A. Tindall & H. Dean Gray (1985) mengemukakan: "peer counseling is defined as variety of interpersonal helping behaviours assumed by nonprofessionals who undertake a helping role with others"(konseling teman sebaya dapat diartikan sebagai jenis bantuan interpersonal yang dilakukan oleh nonprofesional untuk membantu teman yang lainnya terj. Bebas arief Mustafa). Lebih lanjut dijelaskan bahwa: "peer counseling includes one-to-one helping relationships, group leadership, discussion leadership, advisement, tutoring, and all activities of an interpersonal human helping or assisting nature"(konseling teman sebaya meliputi hubungan bantuan individu ke individu, kepemimpinan kelompok, kepemimpinan dalam diskusi, pemberian nasehat, tutorial, dan semua aktifitas hubungan interpersonal manusia yang saling membantu terj bebas, arief mustafa).

Dengan sederhana dapat didefinisikan bahwa konseling sebaya adalah layanan bantuan konseling yang diberikan oleh teman sebayanya (biasanya seusia/tingkatan pendidikannya hampir sama) yang telah terlebih dahulu diberikan pelatihan-pelatihan untuk menjadi konselor sebaya sehingga diharapkan dapat memberikan bantuan baik secara individual maupun kelompok kepada teman-temannya yang bermasalah ataupun mengalami berbagai hambatan dalam perkembangan kepribadiannya. Mereka yang menjadi konselor sebaya bukanlah seorang yang profesional di bidang konseling tapi mereka diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan konselor profesional.

Dengan adanya layanan peer counseling berarti sekolah menyiapkan siswa-siswa tertentu untuk menjadi konselor nonprofesional dalam membantu menyelesaikan masalah teman-temannya. Para siswa calon peer counselor akan mendapatkan serangkaian pelatihan yang memadai untuk jadi konselor sebaya, sehingga diharapkan meningkatkan kemampuan siswa (yang dilatih sebagai peer-conselor dan konseli yang dibimbingnya) dalam menghadapi masalah. (Erhamwilda, MODEL HIPOTETIK "PEER COUNSELING" DENGAN PENDEKATAN REALITAS UNTUK SISWA SLTA -Satu Inovasi Bagi Layanan Konseling Di Sekolah, Makalah disampaikan dalam Konggres Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia tahun 2009)


 

  1. BEBERAPA HASIL PENELITIAN PENERAPAN PEER COUNSELING


     

Dalam makalahnya yang berjudul MODEL HIPOTETIK "PEER COUNSELING" DENGAN PENDEKATAN REALITAS UNTUK SISWA SLTA -Satu Inovasi Bagi Layanan Konseling Di Sekolah (lebih jauh tentang makalah tersebut dapat didownload di www.konselingindonesia.com), Erhamwilda mengumpulkan beberapa riset tentang keefektifan peer counseling. Berikut ini merupakan kutipan keefektifan peer counseling ;

Carr (1981) menyatakan bahwa tanpa bantuan aktif dari para siswa (teman sebaya) dalam memecahkan krisis perkembangan dan problem-problem psikologis mereka sendiri, program-program layanan dan program konseling tidak akan berhasil secara efektif. Menurut Carr (1981) konselor harus melibatkan para siswa (teman sebaya) sebagai cooperative allies dan upaya-upaya membantu siswa melalui berbagai tindakan yang rasional dan logis.

Judy A. Tindall & Dean Gray (1985) telah menunjukkan bahwa sebagian besar layanan yang diberikan melalui peer counseling itu sukses. Sebagaimana Bowman and Myrick (1980) menggambarkan program sebaya pada pelajar kelas 3-6 SD, di mana siswa sudah dilatih menjadi konselor yunior. Semua peer helpers mengalami peningkatan positif dalam konsep diri ketika dibandingkan dan dianalisis dari hasil pre test dan post testnya.

Selanjutnya Emmert (1977) menemukan bahwa kelompok siswa yang telah mendapatkan pelatihan menjadi peer-helper secara statistik berbeda dan lebih tinggi skor empatinya dibanding kelompok siswa yang tidak menerima pelatihan. Dalam studi yang lain, Bell (1977) menggunakan metoda perbandingan antar kelompok untuk menemukan efek dari partisipasi pada program peer counseling siswa SMP. Ia menguji apakah terjadi peningkatan konsep diri dan prestasi akademik pada peer-conselor. Dia menemukan meskipun peer-conselor yang dilatih tidak memperlihatkan peningkatan dalam self consept, mereka menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi dibanding kelompok siswa peer conselor yang tidak bekerja dengan siswa-siswa lain. (Judy A. Tindall & Dean Gray,1985)

Gumaer (1976) dengan menggunakan skala tipe Likert dalam self-report studinya; " his findings suggested that both the helpers and the students they worked with had positive attitudes toward the peer helper experience and believed it should be a part of every school." (Judy A. Tindall & Dean Gray,1985)

Kemudian Miller (dalam Fritz, 1999) melaporkan bahwa konseli-konseli yang memanfaatkan layanan konseling sebaya mampu melakukan identifikasi diri dengan teman sebaya mereka, dan para konseli menganggap bahwa "konselor" sebaya memiliki kemauan membangun jembatan komunikasi. Tapi menurut Fritz (1999) hal ini tidak berarti konselor sebaya mengganti keberadaan konselor profesional, ia hanya membantu meningkatkan pelayanan.

Tindall (1978) mencoba mengukur pengaruh dari latihan pada kemampuan siswa yang berperan sebagai fasilitator sebaya dalam suasana/ setting individual dibandingkan yang siswa tidak dilatih. Kelompok kontrol terdiri dari 5 siswa SMA yang bekerja di kantor; kelompok eksperimen terdiri dari 8 siswa berperan memberikan pelayanan dalam konseling sebaya di sebuah SMA. Dua orang siswa dari kelompok eksperimen menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam mengadili, dan secara signifikan lebih tinggi kemampuannya sebagai helper individual dibanding siswa kelompok kontrol yang tidak dilatih. Hal ini ditunjukkan baik dalam rekaman interview 15 menit maupun pada catatan tertulis dalam indeks komukasi.

Judy A. Tindal & Dean Gray (1985) menyimpulkan bahwa: "Obviously other highly controlled research is still needed, but sufficient subjective and objective studies are available to indicate the success of peer counseling."

Selanjutnya Suwarjo (2008) telah membuktikan bahwa model koseling teman sebaya efektif dalam mengembangkan daya lentur (resilience) anak asuh Panti Sosial Asuhan Anak Propinsi Istimewa Yogyakarta.

Di Inggris, "peer counseling" sangat kuat, dan punya inisiatif untuk perlindungan hukum bagi perkembangan pendidikan, lingkungan, keluarga, etc. Anggota sukarela "peer counseling" menjadi mediasi bagi pencagahan maupun mengatasi berbagai konflik antara kelompok.


 

  1. Kondisi yang Esensial bagi "Peer Counseling"

Menurut Judy A. Tindall dan Dean Gray (1985) berdasarkan riset empirik dan riset literatur, "peer counseling" yang memuaskan membutuhkan kondisi tertentu yaitu: (a)
setiap orang yang terlibat dalam program perlu terlibat dalam perencanaan, (b)
rencana program pelatihan yang spesifik sangat penting. Format program mungkin dalam bentuk kelas, satu seri workshop, seminar training, atau bentuk lainnya, harus dibuat komponen training yang efektif (c)
pertemuan kelompok jangka pendek ataupun workshop yang durasinya pendek tidak tepat untuk melatih helper secara efektif, (d)
program latihan yang panjang tidak penting, tetapi mesti terstruktur baik, cukup memungkinkan trainees untuk mendapatkan pelatihan terpadu, (e)
individu yang kualitas sensitivitas, kehangatan, dan kesadaran tentang orang lain sudah baik, membuatnya menjadi trainees yang efektif (f)
supervisor dari trainees (orang yang dilatih) sangat penting keberadaannya. Termasuk untuk memberikan follow up pada peer-counseling yang sedang dijalankan helper, (g) evaluasi dan riset mesti menjadi bagian dari training dan program peer counseling, untuk mengukur kemajuan dan masalah-masalah, (h)
orang yang terlibat dalam program perlu tertarik dengan konsep dan aplikasi dari "peer counseling", (i)
siapapun yang merencanakan untuk mengimplementasikan program "peer counseling" di sekolah akan membutuhkan respon positif, dari berbagai personil, (j) jangan gunakan peer training dan pekerja yang berikutnya dari non profesional yang bisa menimbulkan kegagalan bekerja dengan profesional, jangan ingin diganggu. "Peer counselor" mesti menjadi bagian terintegrasi dari keseluruhan program yang diadakan tenaga profesional, (k) aspek Etik dari latihan mesti diajarkan secara tepat dan disupervisi secara menyeluruh, (l) Peer counselor akan bekerja dengan sebayanya dengan sistem nilai berbeda dengan di kelompok, dan (m) peer counselor dapat bekerja secara sukses dengan dukungan kelompok jika dilatih dengan pantas.


 

  1. RASIONAL PEMILIHAN PENDEKATAN KONSELING

Karena pelayanan konseling dengan model peer counseling melibatkan siswa sebagai calon konselor maka pendekatan konseling yang dipakai haruslah pendekatan yang mudah diaplikasikan dan fleksibel. Dalam konseling, terdapat banyak pendekatan yang dapat dipakai untuk tujuan tersebut. Seperti Konseling realitas, konseling trait factor, terapi gestalt, rasional emotive terapy. Disini akan dicoba menggunakan konseling realitas dengan pertimbangan ; pertama menguji hipotetik dari Erhamwida tentang keefektifan konseling realitas dalam program peer counseling, kedua, pendekatan konseling realitas lebih mudah diterapkan, berorientasi kekinian, dan sesuai dengan tahap perkembangan remaja yang lebih realistik dan rasional dalam menghadapi persoalan hidup.

  1. Aplikasi konseling realitas pada program"Peer Counseling" di SMPN 1 Kasembon

Berdasarkan kajian tentang pelaksanaan konseling individual dengan menggunakan Terapi Realitas dan berdasarkan pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan peer counseling, maka dapat disusun bentuk aplikatif dari program peer counseling dengan pendekatan terapi realitas.

Model aplikatif program peer counseling dengan menggunakan pendekatan terapi realitas akan mengacu pada pandangan Gysbers &Henderson (1994); Gysbers & Moore, (1981) tentang model program. Dalam model program tersebut ada tujuh komponen dengan dua kategori utama yaitu: komponen struktur, dan komponen program.

Komponen struktur menggambarkan: (1) definisi program peer counseling, (2) rasional pentingnya program peer counseling, dan (3) asumsi yang berisi prinsip yang mendasari program peer counseling.

Komponen program menggambarkan: (1) aktivitas-aktivitas utama dalam pelaksanaan program peer counseling, (2) peran dan tanggung jawab personil sekolah yang terlibat dalam program peer counseling.

Aktivitas-aktivitas yang termasuk komponen program adalah:

  1. membuat rancangan program "peer counseling", dengan melibatkan berbagai pihak terutama konselor profesional, kepala sekolah, persetujuan dan dukungan para guru dan administrasi. Isi perencanaan akan meliputi: pemilihan "peer counselor" dan pelatihan bagi peer counselor, bentuk pelatihan, personil yang akan melatih dan kriterianya, biaya pelatihan, tempat pelatihan, berapa lama pelatihan akan dilakukan, pihak-pihak yang dimintai dukungan untuk pelatihan, keterampilan dasar konseling yang akan dilatihkan bagi peer counselor, pemahaman tentang pendekatan terapi realitas yang dijadikan kerangka pikir teoritik dan praktis dalam latihan konseling, serta evaluasi pelatihan.
  2. Pelaksanaan pelatihan peer counselor (mulai dari teoritis sampai praktek).

    Pelatihan dilaksanakan sesuai rencana, dan pendekatan terapi realitas dijadikan acuan dalam memahami hakekat peer counsele sebagai manusia, dan bagaimana masalah terjadi pada diri counsele, bagaimana mengarahkan peer counsele pada perubahan perilaku, dengan kerangka WDEP, bagaimana hubungan konseling harus terjalin antara konselor dengan konseli, prosedur dan teknik-teknik konseling, dan bagaimana menilai kemajuan konseli dalam konseling. Pelatihan keterampilan dasar konseling akan berguna untuk berkomunikasi dalam konseling, sesuai tahap-tahap konseling. Pelatihan konseling dilakukan berupa latihan melaksanakan konseling individual maupun konseling kelompok.

  3. Bekerjanya peer counselor dalam melayani peer counselee pada counseling individual ataupun konseling kelompok dibawah pengawasan supervisor (konselor profesional)
  4. Membahas berbagai kesulitan yang mungkin ditemui peer counselor, dan menindaklanjuti proses konseling jika perlu.
  5. Melakukan evaluasi terhadap hasil kerja peer counselor, untuk peningkatan kemampuan peer counselor, dan mengkaji berbagai kekuatan dan kelemahan yang terjadi.
  6. Mengkaji dampak program peer counseling pada peer counselor dan pada peer counselee.


     

  1. Rancangan Program Peer Counseling

    Pemilihan peer Counselor ;

  • Menyampaikan gagasan dan pentingnya peer counseling pada siswa saat pelayanan konseling klasikal dikelas
  • Memilih siswa sebanyak 4 orang tiap kelas untuk dilatih. Dengan jumlah kelas sebanyak 7 rombel pada kelas 9 maka akan diperoleh sebanyak 28 siswa calon peer counselor.

Pelatihan Peer Counselor

  • Merancang model pelatihan pada siswa yang telah dipilih
  • Menentukan etika dasar pelayanan konseling untuk peer counselor
  • Jenis-jenis ketrampilan konseling yang perlu diberikan beserta panduannya
  • Waktu pelaksanaan dan keterlibatan pihak-pihak yang diperlukan

Bentuk dan Waktu Pelatihan

  • Pengembangan Kelas konseling setiap hari sabtu setelah jam pelajaran selesai selama 3 bulan (September – Nopember 2011) untuk memberikan pelatihan pada siswa yang telah ditentukan untuk menjadi peer counselor

Personil yang terlibat

  • Kepala Sekolah
  • Konselor
  • Narasumber dari perguruan tinggi untuk memberikan penguatan peer counseling

Biaya Pelatihan

  • Biaya pelatihan dibebankan dari APBS SMPN 1 Kasembon tahun 2011 – 2012 untuk jenis kegiatan pelayanan BK
  • Perkiraan Besar biaya terlampir

Ketrampilan dasar yang dilatihkan

  • Dasar – dasar ketrampilan komunikasi ; attending, summarizing, Questioning, Genuineness, Assertiveness/ketegasan,
    Confrontation, Problem Solving

  • Pemahaman tentang terapi realitas toeri dan praktik

Evaluasi pelatihan

  • Umpan balik dari peserta kelas peer counseling
  • Kesulitan-kesulitan dan hambatan dalam pelaksanaan evaluasi pelatihan

Kamis, 12 November 2009

REMAJA


Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.

Aspek-aspek perkembangan pada masa remajaPerkembangan fisikYang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

Perkembangan Kognitif Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.
Personal fabel adalah "suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar" . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :
“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.
Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.

Perkembangan kepribadian dan sosialYang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).
Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

Ciri-ciri Masa RemajaMasa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

Tugas perkembangan remaja Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
memperoleh peranan sosial
menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup
Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

Beberapa isu perkembangan remaja: seksualitas, harga diri, orientasi masa depan, konsumsi, keluarga
Sumber PustakaAaro, L.E. (1997). Adolescent lifestyle. Dalam A. Baum, S. Newman J. Weinman, R. West and C. McManus (Eds). Cambridge Handbook of Psychology, Health and Medicine (65-67). Cambridge University Press, Cambridge.
Beyth-Marom, R., Austin, L., Fischhoff, B., Palmgren, C., & Jacobs-Quadrel, M. (1993). Perceived consequences of risky behaviors: Adults and adolescents. Journal of Developmental Psychology, 29(3), 549-563
Conger, J.J. (1991). Adolescence and youth (4th ed). New York: Harper Collins
Deaux, K.,F.C,and Wrightman,L.S. (1993). Social psychology in the ‘90s (6th ed.). California : Brooks / Cole Publishing Company.
Gunarsa, S.D. (1988). Psikologi remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S.D. (1990). Dasar dan teori perkembangan anak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Hurlock, E. B. (1990). Developmental psychology: a lifespan approach. Boston: McGraw-Hill.
Hurlock, E. B. (1973). Adolescent development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha.
Monks, F.J., Knoers, A. M. P., Haditono, S. R. (1991) Psikologi perkembangan : Pengantar dalam berbagai bagiannya (cetakan ke-7). Yogya: Gajah Mada University Press.
Papalia, D E., Olds, S. W., & Feldman, Ruth D. (2001). Human development (8th ed.). Boston: McGraw-Hill
Rice, F.P. (1990). The adolescent development, relationship & culture (6th ed.). Boston: Ally & Bacon
Santrock, J.W. (2001). Adolescence (8th ed.). North America: McGraw-Hill.

Minggu, 01 November 2009

MEMERANGI RASA MALAS

Saat teman-temannya sibuk mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk hari pertama sekolah usai libur Lebarannya, Marsha (15) malah ogah-ogahan bangkit dari tempat tidurnya. Dengan mata yang masih menutup, ia berusaha berjalan menggapai kamar mandi yang letaknya hanya lima belas langkah dari pintu kamarnya. Tapi, belum sampai ke pintu kamar mandi, kakinya malah melangkah ke arah sofa depan TV. Ia pun melanjutkan mimpinya melawan monster harimau ....

Saat teman-temannya sibuk mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk hari pertama sekolah usai libur Lebarannya, Marsha (15) malah ogah-ogahan bangkit dari tempat tidurnya. Dengan mata yang masih menutup, ia berusaha berjalan menggapai kamar mandi yang letaknya hanya lima belas langkah dari pintu kamarnya. Tapi, belum sampai ke pintu kamar mandi, kakinya malah melangkah ke arah sofa depan TV. Ia pun melanjutkan mimpinya melawan monster harimau ....Bukan kali ini aja Marsha malas-malasan berangkat ke sekolah. Awal Ramadan lalu, ayah dan ibunya sempat kewalahan menyuruh putri keduanya ini untuk berangkat sekolah. Padahal di sekolahnya enggak ada pelajaran yang menuntutnya untuk belajar serius. Selama Ramadan kemarin, kegiatan belajar-mengajar di sekolahnya diganti dengan program pesantren Ramadan yang hanya memakan waktu sampai pukul dua belas siang.Cerita tadi bukan sekadar ilustrasi lho. Shandy (bukan nama sebenarnya), juga mengalami hal serupa. Malas ke sekolah bukan hal baru buat cewek yang bersekolah di sebuah SMP negeri di bilangan Buah Batu ini. Dalam waktu satu bulan, pasti ada satu atau dua hari yang dihabiskannya di rumah saja. Anehnya lagi, ortu Shandy seakan mengizinkan anak bungsunya ini untuk melakukan kebiasaan bolosnya tersebut. ”Mungkin papa sama mama aku udah bosan kali ngingetin. Soalnya, aku orangnya emang enggak bisa dipaksa,” tuturnya polos.Lantas, apa sih yang dikerjakan Shandy selama dia ”diberi izin” untuk bolos? ”Banyaklah. Kalau di rumah, aku bisa online, trus bisa bikin tugas yang dikasih sama guru lain, ngoprek komputer, atau baca,” kata cewek yang sekarang duduk di kelas IX ini. Rupanya, Shandy ini membolos hanya di hari tertentu aja. Ia hanya menghindari pelajaran matematika yang kurang disukainya. ”Habis gurunya enggak asyik ngajarnya. Neranginnya berbelit-belit, trus kalau ngasih PR suka kebangetan,” gerutunya. Asal tau aja, ayah Shandy juga bilang kalau putrinya ini emang sedikit aneh. ”Shandy emang susah diatur kalau urusan masuk sekolah. Untungnya, nilai-nilainya lumayan. Yang paling jelek emang matematika. Saya juga heran, kenapa bahasa Inggrisnya bisa dapet sembilan, tapi kalau matematika cuman dapet kebalikannya,” ucap Pak Hardi yang kebetulan adalah kerabat ortu belia.Lain Shandy, lain pula Awan (bukan nama sebenarnya). Cowok yang sekarang duduk di kelas XI sebuah SMA negeri di bilangan Kabupaten Bandung ini, pernah ngalamin hal buruk gara-gara kebiasaan bolosnya. Awan terpaksa pindah sekolah agar bisa tetap naik kelas. ”Ya, mau nggak mau saya pindah sekolah, Kak. Kalau enggak, malulah sama tetangga-tetangga,” katanya pelan. Sejak masuk SMA, Awan yang di SMP-nya tergolong murid yang rajin, berubah total. Setelah ditelusuri, fasilitas yang diberikan ayahnya lah yang jadi biang keladi kenapa ia sering bolos sekolah. ”Dulu kalau enggak sekolah, saya ngumpul sama temen-temen saya yang juga bolos. Ngutak atik motor atau main game online,” tuturnya.Hmm, sedikit miris ya mendengar kisah dari Awan dan Shandy tadi. Beberapa tahun lalu, saat belia masih berseragam sekolah, kayaknya tabu banget untuk minta izin enggak sekolah ke ortu. Jangankan diizinkan seperti Shandy, baru punya ide untuk enggak masuk sekolah tanpa alasan jelas saja, pasti langsung dipelototin, hehehe .... Belum lagi kalau ingat mereka yang kurang mampu secara ekonomi untuk melanjutkan sekolah, hmmphh ....Kru belia sempat ngobrol dengan Ibu Shinta, guru BP SMP Taruna Bakti soal kebiasaan membolos ini. Dia bilang, biasanya, yang punya kecenderungan untuk malas sekolah itu anak-anak yang punya masalah intern keluarga. ”Mereka yang diizinkan untuk tidak masuk sekolah tanpa alasan yang kuat biasanya punya masalah pribadi atau masalah di keluarganya. Jika demikian, kami tidak bisa melanggar wilayah itu, karena permasalahannya hanya bisa diselesaikan oleh mereka. Tapi, kalau anak yang emang dasarnya malas sekolah sih, sejauh ini bisa kami tangani,” ucap Bu Shinta.Menghadapi mereka yang schoolfobia atau malas sekolah memang enggak gampang. ”Butuh dicari tahu penyebab dari masing-masing anak. Penanganannya pun berbeda untuk setiap kasus,” kata seorang psikolog yang juga pemerhati pendidikan anak dan remaja, Bu Alva Handayani. Penyebab kemalasan anak untuk belajar dan akhirnya sampai malas berangkat sekolah bisa dideteksi sejak awal. ”Secara umum, penyebab utamanya adalah pola belajar yang dipakai sejak kecil, bisa dari TK atau SD. Faktor kebiasaanlah yang nantinya berpengaruh pada sikap masing-masing anak,” lanjutnya.Kalau dipikir-pikir lagi, rasa malas emang enggak dateng tiba-tiba ya. Pasti ada penyebab yang bikin kita malas melakukan sesuatu, padahal kita harus melakukan hal tersebut. ”Mungkin kalau dulu di SD atau TK, yang dianggap sebagai anak rajin adalah anak-anak yang duduk diam mendengarkan semua yang dibilang Ibu guru. Anak yang banyak tanya malah dianggap sebagai biang keributan. Hal seperti ini yang nantinya bisa berdampak kurang baik untuk anak-anak tertentu,” tutur Bu Alva yang juga aktif sebagai trainer untuk remaja dan guru.Shandy menuturkan kalau salah satu faktor yang bikin mood sekolahnya hilang adalah banyaknya tugas yang diberikan guru-guru pelajaran tertentu. ”Tugasnya suka aneh-aneh sih. Awalnya seru, karena aku bisa mencari sumber dari mana aja, termasuk internet. Tapi, lama-lama kok tugasnya semakin banyak, dan sekarang tuh jarang banget ada PR yang jawabannya tinggal ngelihat dari buku paket,” keluh Shandy.Tuntutan untuk lebih kreatif dari guru juga bisa jadi penyebab malas sekolah. ”Kalau saya lihat sih, anak-anak sekarang tingkat usahanya jauh lebih rendah dibandingkan anak-anak dulu. Dengan tingkat ekonomi ortu yang semakin baik, mereka pun akan menganggap belajar bukan sebagai usaha untuk tujuan ke depan dan semakin santai menghadapi semuanya,” jelas Bu Alva.Supaya si malas tadi buruan pergi dari badan dan otak Belia, diperlukan kerja sama yang bagus antara kamu, bapak atau ibu guru, dan ortu di rumah. ”Lingkungan amat sangat mendukung untuk menghilangkan rasa malas, lho. Kalau yang diajak main anak-anak yang kerjaannya bolos juga ya, kapan mau berubahnya? Enggak ada salahnya kok gaul dengan mereka yang tergolong rajin di kelas. Siapa tau, dengan kehadiran si anak yang punya kebiasaan berbeda, pola belajar anak-anak rajin yang tadinya membosankan bisa sedikit berubah. Diskusi atau menonton film, baca buku pelajaran yang kemasannya menarik kan bisa juga.”Bu Alva juga punya masukan untuk bapak dan ibu guru di sekolah supaya murid-muridnya rajin dan betah berada di sekolah. ”Pola mengajar dari guru pun harus disesuaikan dengan keadaan anak-anak di kelas, lho. Salah satu yang efektif adalah guru harus mencari korelasi antara pelajaran yang sedang dipelajari dan realita yang dihadapi anak-anak. Guru juga harus kreatif dong, supaya murid juga enjoy belajarnya. Alumni yang udah bekerja atau kuliah pun bisa dipanggil lagi untuk sharing dengan anka-anak. Mereka bisa dijadikan sebagai role model juga kan,” tambah Bu Alva.Last but not least nih, untuk para ortu di rumah, enggak ada salahnya lho, om dan tante memberikan reward buat anak-anaknya. Soalnya, dengan diberi sedikit pujian karena mau belajar, itu seperti cambukan semangat buat kita. ”Ya, emang lebih enak kalau papa sama mama saya merhatiin saya belajar. Enggak hanya ngasih duit jajan, atau marah-marah pas ngeliat rapot saya,” kata Awan yang bertekad untuk lebih serius belajar semester ini.Well, belum terlambat kok kalau mau mengubah kebiasaan malas kamu. Dengan dukungan dari banyak orang, pastinya Belia bisa menjadi manusia baru di sekolah. Mumpung baru aja Lebaran, sok atuh diniatin untuk mengisi lembaran baru hidup Belia dengan mengikis rasa malas. Yuk sama-sama perang melawan kemalasan! ***

Sumber : Pikiran Rakyat (23 Oktober 2007)