Minggu, 01 November 2009

MEMERANGI RASA MALAS

Saat teman-temannya sibuk mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk hari pertama sekolah usai libur Lebarannya, Marsha (15) malah ogah-ogahan bangkit dari tempat tidurnya. Dengan mata yang masih menutup, ia berusaha berjalan menggapai kamar mandi yang letaknya hanya lima belas langkah dari pintu kamarnya. Tapi, belum sampai ke pintu kamar mandi, kakinya malah melangkah ke arah sofa depan TV. Ia pun melanjutkan mimpinya melawan monster harimau ....

Saat teman-temannya sibuk mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk hari pertama sekolah usai libur Lebarannya, Marsha (15) malah ogah-ogahan bangkit dari tempat tidurnya. Dengan mata yang masih menutup, ia berusaha berjalan menggapai kamar mandi yang letaknya hanya lima belas langkah dari pintu kamarnya. Tapi, belum sampai ke pintu kamar mandi, kakinya malah melangkah ke arah sofa depan TV. Ia pun melanjutkan mimpinya melawan monster harimau ....Bukan kali ini aja Marsha malas-malasan berangkat ke sekolah. Awal Ramadan lalu, ayah dan ibunya sempat kewalahan menyuruh putri keduanya ini untuk berangkat sekolah. Padahal di sekolahnya enggak ada pelajaran yang menuntutnya untuk belajar serius. Selama Ramadan kemarin, kegiatan belajar-mengajar di sekolahnya diganti dengan program pesantren Ramadan yang hanya memakan waktu sampai pukul dua belas siang.Cerita tadi bukan sekadar ilustrasi lho. Shandy (bukan nama sebenarnya), juga mengalami hal serupa. Malas ke sekolah bukan hal baru buat cewek yang bersekolah di sebuah SMP negeri di bilangan Buah Batu ini. Dalam waktu satu bulan, pasti ada satu atau dua hari yang dihabiskannya di rumah saja. Anehnya lagi, ortu Shandy seakan mengizinkan anak bungsunya ini untuk melakukan kebiasaan bolosnya tersebut. ”Mungkin papa sama mama aku udah bosan kali ngingetin. Soalnya, aku orangnya emang enggak bisa dipaksa,” tuturnya polos.Lantas, apa sih yang dikerjakan Shandy selama dia ”diberi izin” untuk bolos? ”Banyaklah. Kalau di rumah, aku bisa online, trus bisa bikin tugas yang dikasih sama guru lain, ngoprek komputer, atau baca,” kata cewek yang sekarang duduk di kelas IX ini. Rupanya, Shandy ini membolos hanya di hari tertentu aja. Ia hanya menghindari pelajaran matematika yang kurang disukainya. ”Habis gurunya enggak asyik ngajarnya. Neranginnya berbelit-belit, trus kalau ngasih PR suka kebangetan,” gerutunya. Asal tau aja, ayah Shandy juga bilang kalau putrinya ini emang sedikit aneh. ”Shandy emang susah diatur kalau urusan masuk sekolah. Untungnya, nilai-nilainya lumayan. Yang paling jelek emang matematika. Saya juga heran, kenapa bahasa Inggrisnya bisa dapet sembilan, tapi kalau matematika cuman dapet kebalikannya,” ucap Pak Hardi yang kebetulan adalah kerabat ortu belia.Lain Shandy, lain pula Awan (bukan nama sebenarnya). Cowok yang sekarang duduk di kelas XI sebuah SMA negeri di bilangan Kabupaten Bandung ini, pernah ngalamin hal buruk gara-gara kebiasaan bolosnya. Awan terpaksa pindah sekolah agar bisa tetap naik kelas. ”Ya, mau nggak mau saya pindah sekolah, Kak. Kalau enggak, malulah sama tetangga-tetangga,” katanya pelan. Sejak masuk SMA, Awan yang di SMP-nya tergolong murid yang rajin, berubah total. Setelah ditelusuri, fasilitas yang diberikan ayahnya lah yang jadi biang keladi kenapa ia sering bolos sekolah. ”Dulu kalau enggak sekolah, saya ngumpul sama temen-temen saya yang juga bolos. Ngutak atik motor atau main game online,” tuturnya.Hmm, sedikit miris ya mendengar kisah dari Awan dan Shandy tadi. Beberapa tahun lalu, saat belia masih berseragam sekolah, kayaknya tabu banget untuk minta izin enggak sekolah ke ortu. Jangankan diizinkan seperti Shandy, baru punya ide untuk enggak masuk sekolah tanpa alasan jelas saja, pasti langsung dipelototin, hehehe .... Belum lagi kalau ingat mereka yang kurang mampu secara ekonomi untuk melanjutkan sekolah, hmmphh ....Kru belia sempat ngobrol dengan Ibu Shinta, guru BP SMP Taruna Bakti soal kebiasaan membolos ini. Dia bilang, biasanya, yang punya kecenderungan untuk malas sekolah itu anak-anak yang punya masalah intern keluarga. ”Mereka yang diizinkan untuk tidak masuk sekolah tanpa alasan yang kuat biasanya punya masalah pribadi atau masalah di keluarganya. Jika demikian, kami tidak bisa melanggar wilayah itu, karena permasalahannya hanya bisa diselesaikan oleh mereka. Tapi, kalau anak yang emang dasarnya malas sekolah sih, sejauh ini bisa kami tangani,” ucap Bu Shinta.Menghadapi mereka yang schoolfobia atau malas sekolah memang enggak gampang. ”Butuh dicari tahu penyebab dari masing-masing anak. Penanganannya pun berbeda untuk setiap kasus,” kata seorang psikolog yang juga pemerhati pendidikan anak dan remaja, Bu Alva Handayani. Penyebab kemalasan anak untuk belajar dan akhirnya sampai malas berangkat sekolah bisa dideteksi sejak awal. ”Secara umum, penyebab utamanya adalah pola belajar yang dipakai sejak kecil, bisa dari TK atau SD. Faktor kebiasaanlah yang nantinya berpengaruh pada sikap masing-masing anak,” lanjutnya.Kalau dipikir-pikir lagi, rasa malas emang enggak dateng tiba-tiba ya. Pasti ada penyebab yang bikin kita malas melakukan sesuatu, padahal kita harus melakukan hal tersebut. ”Mungkin kalau dulu di SD atau TK, yang dianggap sebagai anak rajin adalah anak-anak yang duduk diam mendengarkan semua yang dibilang Ibu guru. Anak yang banyak tanya malah dianggap sebagai biang keributan. Hal seperti ini yang nantinya bisa berdampak kurang baik untuk anak-anak tertentu,” tutur Bu Alva yang juga aktif sebagai trainer untuk remaja dan guru.Shandy menuturkan kalau salah satu faktor yang bikin mood sekolahnya hilang adalah banyaknya tugas yang diberikan guru-guru pelajaran tertentu. ”Tugasnya suka aneh-aneh sih. Awalnya seru, karena aku bisa mencari sumber dari mana aja, termasuk internet. Tapi, lama-lama kok tugasnya semakin banyak, dan sekarang tuh jarang banget ada PR yang jawabannya tinggal ngelihat dari buku paket,” keluh Shandy.Tuntutan untuk lebih kreatif dari guru juga bisa jadi penyebab malas sekolah. ”Kalau saya lihat sih, anak-anak sekarang tingkat usahanya jauh lebih rendah dibandingkan anak-anak dulu. Dengan tingkat ekonomi ortu yang semakin baik, mereka pun akan menganggap belajar bukan sebagai usaha untuk tujuan ke depan dan semakin santai menghadapi semuanya,” jelas Bu Alva.Supaya si malas tadi buruan pergi dari badan dan otak Belia, diperlukan kerja sama yang bagus antara kamu, bapak atau ibu guru, dan ortu di rumah. ”Lingkungan amat sangat mendukung untuk menghilangkan rasa malas, lho. Kalau yang diajak main anak-anak yang kerjaannya bolos juga ya, kapan mau berubahnya? Enggak ada salahnya kok gaul dengan mereka yang tergolong rajin di kelas. Siapa tau, dengan kehadiran si anak yang punya kebiasaan berbeda, pola belajar anak-anak rajin yang tadinya membosankan bisa sedikit berubah. Diskusi atau menonton film, baca buku pelajaran yang kemasannya menarik kan bisa juga.”Bu Alva juga punya masukan untuk bapak dan ibu guru di sekolah supaya murid-muridnya rajin dan betah berada di sekolah. ”Pola mengajar dari guru pun harus disesuaikan dengan keadaan anak-anak di kelas, lho. Salah satu yang efektif adalah guru harus mencari korelasi antara pelajaran yang sedang dipelajari dan realita yang dihadapi anak-anak. Guru juga harus kreatif dong, supaya murid juga enjoy belajarnya. Alumni yang udah bekerja atau kuliah pun bisa dipanggil lagi untuk sharing dengan anka-anak. Mereka bisa dijadikan sebagai role model juga kan,” tambah Bu Alva.Last but not least nih, untuk para ortu di rumah, enggak ada salahnya lho, om dan tante memberikan reward buat anak-anaknya. Soalnya, dengan diberi sedikit pujian karena mau belajar, itu seperti cambukan semangat buat kita. ”Ya, emang lebih enak kalau papa sama mama saya merhatiin saya belajar. Enggak hanya ngasih duit jajan, atau marah-marah pas ngeliat rapot saya,” kata Awan yang bertekad untuk lebih serius belajar semester ini.Well, belum terlambat kok kalau mau mengubah kebiasaan malas kamu. Dengan dukungan dari banyak orang, pastinya Belia bisa menjadi manusia baru di sekolah. Mumpung baru aja Lebaran, sok atuh diniatin untuk mengisi lembaran baru hidup Belia dengan mengikis rasa malas. Yuk sama-sama perang melawan kemalasan! ***

Sumber : Pikiran Rakyat (23 Oktober 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar