Kamis, 12 November 2009

REMAJA


Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.

Aspek-aspek perkembangan pada masa remajaPerkembangan fisikYang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

Perkembangan Kognitif Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.
Personal fabel adalah "suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar" . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :
“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.
Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.

Perkembangan kepribadian dan sosialYang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).
Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

Ciri-ciri Masa RemajaMasa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

Tugas perkembangan remaja Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
memperoleh peranan sosial
menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup
Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

Beberapa isu perkembangan remaja: seksualitas, harga diri, orientasi masa depan, konsumsi, keluarga
Sumber PustakaAaro, L.E. (1997). Adolescent lifestyle. Dalam A. Baum, S. Newman J. Weinman, R. West and C. McManus (Eds). Cambridge Handbook of Psychology, Health and Medicine (65-67). Cambridge University Press, Cambridge.
Beyth-Marom, R., Austin, L., Fischhoff, B., Palmgren, C., & Jacobs-Quadrel, M. (1993). Perceived consequences of risky behaviors: Adults and adolescents. Journal of Developmental Psychology, 29(3), 549-563
Conger, J.J. (1991). Adolescence and youth (4th ed). New York: Harper Collins
Deaux, K.,F.C,and Wrightman,L.S. (1993). Social psychology in the ‘90s (6th ed.). California : Brooks / Cole Publishing Company.
Gunarsa, S.D. (1988). Psikologi remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S.D. (1990). Dasar dan teori perkembangan anak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Hurlock, E. B. (1990). Developmental psychology: a lifespan approach. Boston: McGraw-Hill.
Hurlock, E. B. (1973). Adolescent development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha.
Monks, F.J., Knoers, A. M. P., Haditono, S. R. (1991) Psikologi perkembangan : Pengantar dalam berbagai bagiannya (cetakan ke-7). Yogya: Gajah Mada University Press.
Papalia, D E., Olds, S. W., & Feldman, Ruth D. (2001). Human development (8th ed.). Boston: McGraw-Hill
Rice, F.P. (1990). The adolescent development, relationship & culture (6th ed.). Boston: Ally & Bacon
Santrock, J.W. (2001). Adolescence (8th ed.). North America: McGraw-Hill.

Minggu, 01 November 2009

MEMERANGI RASA MALAS

Saat teman-temannya sibuk mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk hari pertama sekolah usai libur Lebarannya, Marsha (15) malah ogah-ogahan bangkit dari tempat tidurnya. Dengan mata yang masih menutup, ia berusaha berjalan menggapai kamar mandi yang letaknya hanya lima belas langkah dari pintu kamarnya. Tapi, belum sampai ke pintu kamar mandi, kakinya malah melangkah ke arah sofa depan TV. Ia pun melanjutkan mimpinya melawan monster harimau ....

Saat teman-temannya sibuk mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk hari pertama sekolah usai libur Lebarannya, Marsha (15) malah ogah-ogahan bangkit dari tempat tidurnya. Dengan mata yang masih menutup, ia berusaha berjalan menggapai kamar mandi yang letaknya hanya lima belas langkah dari pintu kamarnya. Tapi, belum sampai ke pintu kamar mandi, kakinya malah melangkah ke arah sofa depan TV. Ia pun melanjutkan mimpinya melawan monster harimau ....Bukan kali ini aja Marsha malas-malasan berangkat ke sekolah. Awal Ramadan lalu, ayah dan ibunya sempat kewalahan menyuruh putri keduanya ini untuk berangkat sekolah. Padahal di sekolahnya enggak ada pelajaran yang menuntutnya untuk belajar serius. Selama Ramadan kemarin, kegiatan belajar-mengajar di sekolahnya diganti dengan program pesantren Ramadan yang hanya memakan waktu sampai pukul dua belas siang.Cerita tadi bukan sekadar ilustrasi lho. Shandy (bukan nama sebenarnya), juga mengalami hal serupa. Malas ke sekolah bukan hal baru buat cewek yang bersekolah di sebuah SMP negeri di bilangan Buah Batu ini. Dalam waktu satu bulan, pasti ada satu atau dua hari yang dihabiskannya di rumah saja. Anehnya lagi, ortu Shandy seakan mengizinkan anak bungsunya ini untuk melakukan kebiasaan bolosnya tersebut. ”Mungkin papa sama mama aku udah bosan kali ngingetin. Soalnya, aku orangnya emang enggak bisa dipaksa,” tuturnya polos.Lantas, apa sih yang dikerjakan Shandy selama dia ”diberi izin” untuk bolos? ”Banyaklah. Kalau di rumah, aku bisa online, trus bisa bikin tugas yang dikasih sama guru lain, ngoprek komputer, atau baca,” kata cewek yang sekarang duduk di kelas IX ini. Rupanya, Shandy ini membolos hanya di hari tertentu aja. Ia hanya menghindari pelajaran matematika yang kurang disukainya. ”Habis gurunya enggak asyik ngajarnya. Neranginnya berbelit-belit, trus kalau ngasih PR suka kebangetan,” gerutunya. Asal tau aja, ayah Shandy juga bilang kalau putrinya ini emang sedikit aneh. ”Shandy emang susah diatur kalau urusan masuk sekolah. Untungnya, nilai-nilainya lumayan. Yang paling jelek emang matematika. Saya juga heran, kenapa bahasa Inggrisnya bisa dapet sembilan, tapi kalau matematika cuman dapet kebalikannya,” ucap Pak Hardi yang kebetulan adalah kerabat ortu belia.Lain Shandy, lain pula Awan (bukan nama sebenarnya). Cowok yang sekarang duduk di kelas XI sebuah SMA negeri di bilangan Kabupaten Bandung ini, pernah ngalamin hal buruk gara-gara kebiasaan bolosnya. Awan terpaksa pindah sekolah agar bisa tetap naik kelas. ”Ya, mau nggak mau saya pindah sekolah, Kak. Kalau enggak, malulah sama tetangga-tetangga,” katanya pelan. Sejak masuk SMA, Awan yang di SMP-nya tergolong murid yang rajin, berubah total. Setelah ditelusuri, fasilitas yang diberikan ayahnya lah yang jadi biang keladi kenapa ia sering bolos sekolah. ”Dulu kalau enggak sekolah, saya ngumpul sama temen-temen saya yang juga bolos. Ngutak atik motor atau main game online,” tuturnya.Hmm, sedikit miris ya mendengar kisah dari Awan dan Shandy tadi. Beberapa tahun lalu, saat belia masih berseragam sekolah, kayaknya tabu banget untuk minta izin enggak sekolah ke ortu. Jangankan diizinkan seperti Shandy, baru punya ide untuk enggak masuk sekolah tanpa alasan jelas saja, pasti langsung dipelototin, hehehe .... Belum lagi kalau ingat mereka yang kurang mampu secara ekonomi untuk melanjutkan sekolah, hmmphh ....Kru belia sempat ngobrol dengan Ibu Shinta, guru BP SMP Taruna Bakti soal kebiasaan membolos ini. Dia bilang, biasanya, yang punya kecenderungan untuk malas sekolah itu anak-anak yang punya masalah intern keluarga. ”Mereka yang diizinkan untuk tidak masuk sekolah tanpa alasan yang kuat biasanya punya masalah pribadi atau masalah di keluarganya. Jika demikian, kami tidak bisa melanggar wilayah itu, karena permasalahannya hanya bisa diselesaikan oleh mereka. Tapi, kalau anak yang emang dasarnya malas sekolah sih, sejauh ini bisa kami tangani,” ucap Bu Shinta.Menghadapi mereka yang schoolfobia atau malas sekolah memang enggak gampang. ”Butuh dicari tahu penyebab dari masing-masing anak. Penanganannya pun berbeda untuk setiap kasus,” kata seorang psikolog yang juga pemerhati pendidikan anak dan remaja, Bu Alva Handayani. Penyebab kemalasan anak untuk belajar dan akhirnya sampai malas berangkat sekolah bisa dideteksi sejak awal. ”Secara umum, penyebab utamanya adalah pola belajar yang dipakai sejak kecil, bisa dari TK atau SD. Faktor kebiasaanlah yang nantinya berpengaruh pada sikap masing-masing anak,” lanjutnya.Kalau dipikir-pikir lagi, rasa malas emang enggak dateng tiba-tiba ya. Pasti ada penyebab yang bikin kita malas melakukan sesuatu, padahal kita harus melakukan hal tersebut. ”Mungkin kalau dulu di SD atau TK, yang dianggap sebagai anak rajin adalah anak-anak yang duduk diam mendengarkan semua yang dibilang Ibu guru. Anak yang banyak tanya malah dianggap sebagai biang keributan. Hal seperti ini yang nantinya bisa berdampak kurang baik untuk anak-anak tertentu,” tutur Bu Alva yang juga aktif sebagai trainer untuk remaja dan guru.Shandy menuturkan kalau salah satu faktor yang bikin mood sekolahnya hilang adalah banyaknya tugas yang diberikan guru-guru pelajaran tertentu. ”Tugasnya suka aneh-aneh sih. Awalnya seru, karena aku bisa mencari sumber dari mana aja, termasuk internet. Tapi, lama-lama kok tugasnya semakin banyak, dan sekarang tuh jarang banget ada PR yang jawabannya tinggal ngelihat dari buku paket,” keluh Shandy.Tuntutan untuk lebih kreatif dari guru juga bisa jadi penyebab malas sekolah. ”Kalau saya lihat sih, anak-anak sekarang tingkat usahanya jauh lebih rendah dibandingkan anak-anak dulu. Dengan tingkat ekonomi ortu yang semakin baik, mereka pun akan menganggap belajar bukan sebagai usaha untuk tujuan ke depan dan semakin santai menghadapi semuanya,” jelas Bu Alva.Supaya si malas tadi buruan pergi dari badan dan otak Belia, diperlukan kerja sama yang bagus antara kamu, bapak atau ibu guru, dan ortu di rumah. ”Lingkungan amat sangat mendukung untuk menghilangkan rasa malas, lho. Kalau yang diajak main anak-anak yang kerjaannya bolos juga ya, kapan mau berubahnya? Enggak ada salahnya kok gaul dengan mereka yang tergolong rajin di kelas. Siapa tau, dengan kehadiran si anak yang punya kebiasaan berbeda, pola belajar anak-anak rajin yang tadinya membosankan bisa sedikit berubah. Diskusi atau menonton film, baca buku pelajaran yang kemasannya menarik kan bisa juga.”Bu Alva juga punya masukan untuk bapak dan ibu guru di sekolah supaya murid-muridnya rajin dan betah berada di sekolah. ”Pola mengajar dari guru pun harus disesuaikan dengan keadaan anak-anak di kelas, lho. Salah satu yang efektif adalah guru harus mencari korelasi antara pelajaran yang sedang dipelajari dan realita yang dihadapi anak-anak. Guru juga harus kreatif dong, supaya murid juga enjoy belajarnya. Alumni yang udah bekerja atau kuliah pun bisa dipanggil lagi untuk sharing dengan anka-anak. Mereka bisa dijadikan sebagai role model juga kan,” tambah Bu Alva.Last but not least nih, untuk para ortu di rumah, enggak ada salahnya lho, om dan tante memberikan reward buat anak-anaknya. Soalnya, dengan diberi sedikit pujian karena mau belajar, itu seperti cambukan semangat buat kita. ”Ya, emang lebih enak kalau papa sama mama saya merhatiin saya belajar. Enggak hanya ngasih duit jajan, atau marah-marah pas ngeliat rapot saya,” kata Awan yang bertekad untuk lebih serius belajar semester ini.Well, belum terlambat kok kalau mau mengubah kebiasaan malas kamu. Dengan dukungan dari banyak orang, pastinya Belia bisa menjadi manusia baru di sekolah. Mumpung baru aja Lebaran, sok atuh diniatin untuk mengisi lembaran baru hidup Belia dengan mengikis rasa malas. Yuk sama-sama perang melawan kemalasan! ***

Sumber : Pikiran Rakyat (23 Oktober 2007)